VIMAX
obat pembesar penis
Cerita Sex
Vimax
Bali Togel
Poker
obat bius
baccarat online
baccarat online
bandarq
bandarq
bandarq
online
Agen Domino Online
Bandar Togel
Home / Cerita Sex Selingkuh / Cerita Seks Rindu Di Lampiaskan Dengan PhoneSex

Cerita Seks Rindu Di Lampiaskan Dengan PhoneSex

VIMAX

Cerita Sex – Malam itu seperti biasa Tania tidur sendiri pada kamar kost-nya. Namun Tania tidak mampu tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yg serba singkat pada pada kendaraan beroda empat beberapa hari yang kemudian kembali timbul di matanya yg mencoba tertutup. Tempat tinggal   besar  kawasan kostnya pada bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.

Cerita Sex Phone Seks

Cerita Phone Seks
telah seminggu ini Tania tidak berjumpa dengan saya pada kantor, sebab memang saya sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya ialah jadwalku untuk pulang masuk ke kantor, tetapi saya belum pula tiba. Siang tersebut Tania sudah berulang kali menelphone HP-ku, tetapi tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit ada dibenaknya, bercampur menggunakan rasa kangen yang luar biasa.

Cerita Sex bermain cinta lalu ia pun berniat mengontak aku  di rumah, namun niat tadi diurungkan. Bukan saja karena Tania tak mau melanggar komitmen buat tidak menggaguku di tempat tinggal  , tetapi juga sebab beliau sendiri merasa sungkan Jika ternyata telphonenya nanti diangkat sang orang lain di rumahku. Siapa orang itu dan  apa istilah orang itu nanti, jika beliau sampai mencari-cariku ke rumah?

Sekarang, saat matanya tak pula mampu terpejam tidur, beliau menyesal kenapa tidak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tidak lebih 15 kilometer jauhnya berasal kamar tidur Tania, saya jua sedang terlentang sendirian pada ranjang akbar di kamar tidurku menggunakan mata nanar memandang langit-langit. Saya jua tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yg penuh nomor  dan  paling menjemukan telah habis aku  baca. Entah kenapa, malam ini saya begitu merindukan Tania. Mungkin karena sudah seminggu ini kami tak berjumpa, selesainya peristiwa malam yang latif di dalam stagnasi Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu sang kekasihnya yang lain? Apakah beliau sedang beserta dengan sahabat manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membentuk saya terbakar cemburu selain ereksi. Benar-benar menggelisahkan!

Aku  meredupkan lampu baca di kamar tidur dan  menutup rapat pintunya. Sejenak aku  memandang ke arah pesawat telephone pada sisi ranjangku. Haruskah aku  menelphone Tania sekarang, malam-malam begini? Segera aku  angkat gagang telephone, tetapi sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan  saya meletakkannya pulang ke atas pesawatnya. Bagaimana bila dia sedang bersama orang lain waktu ini? Ahh.. Namun rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Waktu Tania hendak mulai memejamkan matanya, tiba-datang terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Siapa..?”, ungkapnya sedikit malas.
“Nia, ada telephone buat engkau  di depan”, ujar suara Eni teman kostnya dari kembali pintu.
“asal siapa..?, Tania bertanya lagi.
“Nggak bilang namanya, cuman pungkasnya dari kakakmu, akan tetapi suara cowok, saudara tertua yg mana sih..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.

Tania bergegas bangkit berasal ranjangnya, dia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Kemudian sembari membuka pintu kamarnya ia mengatakan, “Terima kasih yaa.. En, beliau memang kakakku yang baru tiba dari Malang..”. Tania terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya memahami mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Eni sahabat sebelah kamarnya yg terkenal suka  menggosip.

Tania lalu melangkah cepat ke ruang tamu yg berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone sudah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang telah sangat diakrabinya.

“Halo Nia, ini Mas..”, saya menyapanya.
“Halo Mas, ini lagi di mana..”, ujar Nia dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
“Lagi pada tempat tinggal   dong.., Nia telah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.
“Ahh.. Belum kok, Nia belum ngantuk..”, jawab Nia sedikir berbohong.
“Kenapa..?”, tanyaku lagi.
“Abis, Nia mikirin Mas.., ‘kan mestinya hari ini udah masuk tempat kerja”, Nia mengatakan menggunakan penuh terus terperinci.
“Terima kasih.., kamu inget sama Mas, soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, Nia. Makasih yaa.. Buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.
“Sama-sama, Mas.. Selamat yaa..”, ujar Tania menimpali pernyataanku.
“Iyaa.. Iya.. Jikalau aku  sukses kan berkat engkau  juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. Ngomong-ngomong engkau  lagi di ruang mana nih?”
“di ruang tamu, mas”
“Lagi banyak orang nggak pada situ”
“terdapat si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah di bobo’. Ehh.. Mas, telephone-nya saya bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Tania pelan.

Beliau mengatakan demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Tania dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan praktis mampu ditarik ke kamarnya melalui ventilasi.

Baca cerita sex teranyar lainya pada www.Orisex.Com

“Mas, sekarang udah safety, nggak ada siapa-siapa.. Nggak ada yg nguping”, Tania memberi frekuwensi kepadaku.
“Nia, Mas kangen.. Nih sama engkau , pengin melukin kamu..”, saya mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
“Ahh.. Mas, Nia jua kangen akan tetapi gimana dong..?”, Tania berucap pelan.
“Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, saya mengatakan jujur.

Tania sedikit kaget mendengar pernyataanku yg straight forward itu. Tetapi pada hati dia mengagumi caraku yg tetap halus namun tanpa basa-basi itu.

“Nia, juga.., akan tetapi gimana”, ujar Tania kembali.
“Nia bantuin Mas yaa..”, aku  meminta kepadanya.
“Bantuin apa..?”, ujar Tania resah.
“Bantuin izin rasa kangen Mas terobati”
“Nia mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Nia bisa. Nia mau Mas bahagia”, ia menjawab permintaanku menggunakan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yg terakhir itu, aku  makin tidak mampu mengendalikan perasaanku, serta akupun semakin ingin membayangkan dia sedang berdiri dihadapanku waktu ini. Aku  ingin sekali..

“Nia gunakan baju apa sekarang?”, aku  bertanya lagi.
“pakai daster warna merah belia.., Mas pakai apa”, Nia balik  bertanya.
“Ehmm.. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak gunakan apa-apa lagi.. Engkau  pakai apa di pulang dastermu Nia..?”
“Nia nggak biasa gunakan bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana pada rona krem”
“yang terdapat renda-rendanya itu?”, aku  bertanya penuh rasa bertanya-tanya.
“He.. Em”, ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh dialog penuh rasa romantisme yg membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar buat menanyakan keadaan masing-masing. Suara Nia yg memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membentuk kejantananku semakin menegang terangsang pada kembali celana tidur satin yg saya kenakan.

Ditengah-tengah dialog yg makin mendebarkan itu, Tania menggeletakkan tubuhnya sesudah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja beliau gelapkan, sebab dia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu beliau memang tidak akan mampu tidur menggunakan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Tania berdesir karena cita rasanya dia masih mampu mencium bau wangi tubuhku. Bau yg kini   mulai diakrabinya: segar dan  penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yg terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, sekarang ia mulai membanding-bandingkan antara aku  menggunakan sahabat-temannya yg lain, keluh Tania dalam benaknya.

“Mas..,” bisiknya perlahan sembari menelungkupkan muka ke bantal, “Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?”
“Nia, Mas sedang membayangkan engkau . Kamu mau tahu nggak yg sedang Mas bayangkan..?”, saya berujar pelan.
“Hee em..”, Tania mendesah lagi mengiyakan.
“Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus pada belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku  mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Pada depan mataku seakan-akan terdapat sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar latif percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yg merekah pasrah itu, tergambar kentara di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas pada hidungku. Kelembutan pengecap serta bagian dalam verbal itu.. Hmm, semuanya terasa seperti konkret malam ini. Amat sangat nyata, hingga-hingga saya menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika ketika itu aku  melumat bibir bidadari yg amat aku  dambakan.

“Teruss..?”, Tania berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya.

Bayangan percumbuan kami di dalam kendaraan beroda empat seminggu yang kemudian nampak kentara di pelupuk matanya.

Tania masih ingat betapa aku  mengulum lembut bibir tipisnya menggunakan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Saya melakukannya menggunakan sepenuh hati, sebagai akibatnya rasanya tidak 1/2-1/2. Saat aku  mengulum bibirnya, aku  melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur pada atas awan pada angkasa sana. Tidak sadar Tania meraba bibirnya dengan ujung jari. Beliau dengan mudah mampu merasakan kembali ciuman itu. Tidak mungkin beliau mampu melupakannya.

“Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Kemudian lidah Mas menyapu-nyapu lembut pada sana serta engkau  merasa geli namun jua nikmat.. Kamu mampu merasakannya, ‘yg?”, saya melanjutkan.
“Oocch.. Iyaa.. Mas, teruss..”, Nia semakin tidak tabah menuggu kelanjutannya sembari jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan pada sepanjang lehernya yang jenjang, sekali waktu berhenti di belakang telinganya kemudian mengalir turun ke arah dadanya.
“Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun.. Serta turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yg kiri.. Lalu yg kanan.. Tangan Mas meremasnya lembut.. Ooocch.. Nia, Mas cita rasanya nikmat sekali.. Engkau  juga mencicipi hal yg sama, sayang?”, saya berhenti sejenak. Aku  mendengar Tania mendengus pelan..

Tania tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap sang bibirku serta diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan  remasan yg tak kalah menggairahkan berasal ciuman dibibirnya. Jemari dan  bibiriku seperti penuh oleh tenaga pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Tania mengerang kecil, meremas seprai menggunakan satu tangannya. Ia seperti mencicipi lagi hisapan serta remasan jemari itu pada dadanya. Ukiran nilon tipis sandang tidurnya tiba-datang seperti mewakili remasan itu. Beliau tidur tanpa beha. Oh, ke 2 putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Tania sambil mengerang lagi, kemudian memiringkan badannya, meraih bantal guling.

Lalu kembali aku  melanjutkan fantasiku “..Putingmu, keduanya mulai mengeras serta semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, mungil, panjang serta makin menjulang.. Mas pula menciumi bundar coklat di sekelilingnya, bergantian yg kiri dan  yg kanan. Kamu mulai menggelinjang.. Engkau  meremasi rambut Mas serta menekan bertenaga-bertenaga ketua Mas di dadamu”, aku  menceritakan fantasiku sembari membayangkan seolah-olah aku  memang melakukan aktifitas itu.

“Oocch.. Mas, teruskan..”, Tania mendesah lagi ketika aku  terdiam sesaat.

Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan  ternyata memang benar.., putingnya sudah mulai mengeras. Dia tersenyum sambil matanya permanen terpejam, sementara telinganya permanen berkonsentrasi penuh buat mendengarkan suaraku pada seberang sana.

“Tanganmu kini   juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Nia.., engkau  memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sekali waktu jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang pada ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, engkau  memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..”, aku  berhenti sejenak.

Tanganku tetap berkiprah-gerak pada bawah sana melakukan aktifitas seperti yg saya ceritakan kepadanya.

Udara dingin mengakibatkan aku  wajib  menyelimuti badanku, namun sentuhan selimut pada atas kejantananku yg hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis wacana Tania membentuk diriku terbakar birahi. Perlahan akan tetapi absolut, kejantananku menegang. Semakin lama  , semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

“Oocchh.. Mas.. Nia juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Nia pun mulai sahih-benar hanyut dalam fantasi yg sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami sahih-benar sedang terhanyut pada sensasi seksual masing-masing, sementara masing-masing tangan kami yang terbebas asal gagang telephone melakukan aktifitas buat membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan  hembusan nafas panjang saling menimpali, menghasilkan suasana semakin romantis. Waktu saya semakin tak kuasa menunda rasa geli, nikmat pada bawah sana, saya menghentikan aktifitas tanganku. Saya mengangkat sedikit tubuhku dan  dengan sekuat tenaga aku  turunkan sedikit celana tidurku menggunakan satu tangan, buat memberikan keleluasaan di kejantananku.

“Tania,” bisikku, “Sedang apa engkau  pada sana? Kamu mau tahu nggak apa yg Mas barusan lakukan?”
“Hee.. Emm..”, desahnya pendek.

“Celana tidur Mas sekarang sudah terlepas, kejantanan Mas telah tegak menegang, kamu masih jangan lupa jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam engkau  jua ‘yg..?”, aku  menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yg sama.
“Iyaa.. Mas, sekarang Nia pula sudah terbebas..”, ujar Tania mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah bergerak ke bawah pahanya. Sebenarnya telah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.

Angin dingin menimbulkan bunyi berkesiut pada luar jendela kamar tidur Tania. Ia menelentang kembali, kini   dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yg senyap itu sebenarnya dingin sekali. Namun tubuh Tania mirip dibakar api, serta dia terkejut sendiri waktu tidak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya relatif basah, serta sebuah rasa geli yg telah lama   ia tidak rasakan ternyata muncul di sana.

“Oh, aku  begitu terangsang malam ini”, desah Tania panik di dalam hati.
“Jangan dulu kamu sentuh yg pada bawah sana, Nia. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang engkau  arahkan jemari ke mulutmu, kemudian kamu hisap pelan, engkau  jilat basah sampai pangkal jemari telunjukmu..”, aku  melanjutkan permohonanku.
“He.. Emm..”, Nia mendesah sembari mulai memasukkan jemari ke pada lisan kecilnya.

Jemarinya basah sang cairan ludahnya sendiri, beliau sedang mengkhayalkan sebentuk daging bundar , panjang, lebih akbar dan  lebih keras berasal sosis. Dia mengulumnya pelan, dan  sekali waktu menghisapnya dengan sepenuh perasaan.

“Please, kini   jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Nia. Kamu usapkan jemarimu pada mana kini  , ‘yang..?”

Cepat-cepat Tania memindahkan tangannya, namun tangan itu jatuh pada atas dadanya. Buat sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yg mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Tania menggelinjang. Tania mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti zenit-puncak  dadanya. Rasa geli yg minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan  membelai juga. Gagang telephone dia jepit di antara pundak serta kepalanya, dua tangan sekarang terdapat di dadanya. 2-duanya mereMas, mengusap, menggaruk, membelai.. Tania mendesahkan namaku berkali-kali menggunakan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terbangun.

“Oocchh.. Mas, Nia sedang memilin lembut puting Nia. Oocchh.. Mas.. Keras sekali, Nia ingin Mas menggigitnya, Nia ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas..”, Tania berkata demikian sembari jemari telunjuk serta jempolnya memilin-memutar putingnya menggunakan lembut.
“Iya.. Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu pengecap Mas menyapu-nyapu lubang pada ujung putingnya.. Enak sayang..?”, akupun tidak kalah pada mengimbangi fantasinya.
“Iyaa.. Mas.., kini   tangan Nia ada di atas perut Nia”, Tania melanjutkan.
“Iyaa.. Sayang, bibir Mas sekarang sedang mencium lembut perutmu yg putih. Pengecap Mas berputar-putar di kurang lebih pusarmu. Kemudian Mas turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Mas berhenti di sana..”, saya berhenti buat menunggu reaksinya.

Tania tidak tahan lagi. Menggunakan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya menggunakan tangan yg lain. Celana nilon tipis masih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tidak bisa mencegah rasa nikmat yang datang berasal telapak tangannya. Apalagi kemudian Tania menelusupkan tangan itu ke pulang celana dalamnya, menemukan lembah sempit pada bawah sana telah basah sang cairan cinta. Menemukan pula tonjolan mungil di permukaan sudah menyeruak keluar asal persembunyiannya, menonjol diam-membisu menanti sentuhan jarinya.

“Oochh..”, Nia mengerang pelan sementara jemarinya sekarang tengah berada tepat pada atas gerbang kewanitaannya yg sudah terbebas.

Beliau sahih-sahih telah memelorotkan celana dalamnya.

“kemudian Mas menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Mas. Kemudian Mas menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Mas gigit pelan klitorismu.. Mas hisap.., Mas.. Gigit, Mas.. Hisap lagi. Telunjuk Mas sesekali berputar-putar pada atas daging mungil merah itu..”, aku  balik  mengendalikan fantasinya.
“Oocch.. Mas, Nia pengin Mas.. Nia pengiinn.. Oochh.. Sekarang..”, Nia tidak kuasa meneruskan istilah-katanya.
“Iya.. Sayang, Mas juga.. Mas sekarang akan memasukkan jemari Mas ke dalam kewanitaanmu Nia..”, saya berbisik lembut kepadanya.
“Oocchh..”, Nia mengerang pelan.

Tania menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, waktu ujung telunjuknya tidak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah relatif keras menghambur keluar berasal mulutnya. Laba  teman-sahabat sekostnya telah terlelap sebagai akibatnya mungkin tidak akan terbangun walau Tania berteriak sekali pun.

“Jemari Mas masuk.., berdenyut lembut pada dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Mas keluar.. Masuk.. Keluar.. Masuk.. Pelan sekali.. Lembut sekali.. Semakin licin, engkau  semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, saya mengatakan demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.

Saya meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan sebab mencicipi tubuhku mulai bereaksi mirip umumnya, mengakibatkan seluruh ototku terasa menegang, bagai seseorang pelari yg sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku telah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tidak teratur. Naik turun seirama nafasnya yg mulai memburu.

Mula-mula, saya hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yg kurang jelas, seakan-akan buat memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Namun, sebentar lalu gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap namun menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat beredar sepanjang kejantananku yg terasa bagai batang besi panas membara.

“Mas.., kini   Nia sahih-sahih sudah basah.., Nia ingin bercinta dengan Mas.. Tuang kejantananmu sekarang Mas, please..”, kini   giliran Nia yg memohon kepadaku.
“Iya sayang.., kejantanan Mas pula sudah keras menegang. Sekarang Mas mengarahkannya ke dalam gerbang kewanitaanmu, tanganmu meremas btg kejantanan Mas, sambil mengarahkan ujungnya ke sana. Mas mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Mas merasakan basahnya cairan cintamu, kemudian Mas melesak pelan”, aku  mengatakan dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Saya tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yg membara pada bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku  memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, sampai kini   kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai pada sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. Berasal atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera saya merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kawah gunung berapi yg penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku  mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali juga saya mengerang menggunakan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menunda sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama   semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu hingga ke ujung yang membengkak-membola itu, saya mencicipi tubuhku seperti disedot ke pada pusaran air birahi. Aku  menggeliat-geliat keenakan. Ke 2 kakiku merentang tegang, menggunakan tumit tenggelam dalam-dalam pada kasur. Aku  mengerang.

“Ooochh.., teruskan Mas..”, Tania berbisik sambil mengangkat ke 2 pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.

“lalu Mas mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit bertenaga erat pinggang Mas. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Mas, serta Mas mencicipi ujung kejantanan Mas sekarang sudah menyentuh dinding kewanitaanmu yg terdalam”, saya mencicipi cairan bening sedikit mengalir di bawah sana.
“Ooocchh..”, Tania mengerang semakin keras, saat dia sendiri mulai memasukkan jemari tengahnya ke pada liang basah itu.

Tania mengerang tanpa berusaha menunda suaranya. Beliau telah tidak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar serta jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. Turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. Lalu naik menyusuri lembah licin yg hangat serta basah itu.. Lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, datang pada tonjolan yang kini   memerah itu.. Berputar-putar di sana dua-3 kali ..

“Aaacchh..,” erangan Tania semakin kentara. Kalau saja ada orang berdiri pada kembali pintu dan  menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Tania bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya pula terus meremas-remas payudaranya dengan gemas. Tubuh Tania berguncang-guncang sang gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, kemudian menggulingkan tubuhnya menjauh berasal sisi tempat tidur. Tania telah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Beliau sedang dalam perjalanan yg tak mungkin dihentikannya lagi. Beliau harus sampai ke tujuan!

Saya pun mencicipi tujuan asmara sudah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini   mencekal-meremas pribadi kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa sang telapak tanganku membasahi btg kenyal-keras yg panas membara..

“Mas menggenjotmu menggunakan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama   semakin keras.. Semakin kuat Mas memompamu. Engkau  meronta.. Kamu meremasi rambut ketua Mas. Engkau  mencakar dan  menekan kulit punggung Mas. Mas menghentak.. Menghentak.. Semakin kuat. Serta..”, saya sengaja menghentikan fantasiku, sebab ingin mendengar reaksi Tania.

Namun aku  tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat serta teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak usang pada bagian ujung, meremas-remas serta mengepal. Mengakibatkan rasa geli yg berkepanjangan, menyebar ke semua tubuh, menggetarkan seluruh otot, bahkan sampai mengakibatkan ranjangku berderik-derik pelan.

“Ooochh.. Aacchh..”, Tania merintih-rintih keras pada kenikmatan sensasi fantasinya.

Hanya bunyi rintihan itu yg bisa saya dengar berasal ujung telephone selama beberapa ketika. Aku  terdiam menikmati bunyi rintihannya. Jemari tengah Tania telah lancar ke luar masuk, sambil sekali waktu ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.

Ranjang Tania bergoyang keras waktu dia mulai merasakan dirinya mendaki puncak  asmara. Sekarang 2 jari yg melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini   ke 2 pahanya terentang maksimum, menghasilkan kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan motilitas pada tangannya.

Tangan yg satu lagi kini   beralih ke bawah, tetapi gagang telephone masih dijepit diantara ketua dan  pundaknya. Tania memerlukan ke 2 tangannya buat mendaki puncak  gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya relatif dalam ke liang surgawi yang menimbulkan rasa nikmat itu, ad interim tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang sekarang berdenyut-denyut itu.

Tania bahkan hingga merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh wilayah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan ke 2 tangannya..

Aku  menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan  semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur menggunakan keras. Gagang telephone saya jepit di antara pundak serta kepalaku. Satu tanganku yg bebas kini   mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku  tidak tahan lagi, aku  menggerendeng mencicipi tubuhku mirip hendak meledak.. Kemudian saya sahih-sahih meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat pada telapak tanganku.

Tania merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Beliau tidak tahan lagi. Beliau mengerang parau waktu sebuah ledakan besar  memenuhi dirinya. Ke 2 kakinya terentang kejang. Ke 2 tangannya meninggalkan wilayah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-rol..

Saat nafas kami mulai mereda, suasana damai pada pada telephone itu. Sesekali aku  hanya mampu mendengar hembusan nafas beratnya, demikian jua Taniapun hanya mampu mendengar dengusanku.

“Nia, engkau  masih di sana?”, aku  mengawali percakapan balik .
“Iyaa.. Mas, Mas udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.
“Mas, lega.., dan  capek.., terima kasih yaa.. Nia. Nia enak nggak?”, aku  mengatakan lagi.
“Ehh..Mm”, Tania tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana.

Tetapi saya memahami pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa mnt yang kemudian.

“Nia, kita udahan dulu yaa.. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku  berkata terus jelas. Aku  memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut serta sprei ranjangku.

“Iya Mas, Nia juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya”, ia berujar.

Naah.. Ketahuan deh.. Nia memang wajib  mandi, tetapi alasan gerah tidaklah lumrah, sebab malam itu suhu udara dingin sekali. Tetapi aku  tak berusaha meledeknya buat kealpaannya ini. Aku  paling tahu, Nia sangat sensitif di perasaannya yg satu ini.

“sampai besok yaa.. IOU”, aku  mengakhiri dialog.
“IOU Mas.., mimpiin Nia yaa.., bye”, kemudian Nia menutup telephonenya.

Malam bagai tidak peduli. Permanen menggunakan kelam serta dingin serta desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sembari berdiri, terayun-ayun sang angin yg meraja lela.

Sementara waktu kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik mungil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat mirip dicurahkan asal langit. Aku  masih tergeletak lunglai. Tania pun tak segera mandi, dia terkulai lemas. Kami berdua terpisah oleh tembok, page, batu, sungai mungil, pohon, jalan raya, serta sebagainya.. Namun kami berdua manunggal pada fantasi erotik, kami bertemu dalam khayalan asmara yg menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?

Lalu aku  beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku  masuk ke dalamnya, Tania terkejut sejenak sembari tersenyum melihat kejantananku yang sedari tersebut sudah mulai mengeras lagi. Saya menggosok gigi, ad interim Tania mulai merendamkan tubuhnya pada dalam bathtub. Nyaman sekali cita rasanya berendam pada air hangat. Tania mengusapkan busa wangi ke semua tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai pada pada air. Ke ketiaknya yg mulus tidak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak kurang jelas di bawah bagian atas air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yg terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmm. Biar   semuanya harum.

Sejenak aku  melirik ke kaca, dan  darahkupun berdesir lagi waktu saya melihat Tania sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan rona putih buih-buih sabun yang menempel pada sekelilingnya. Tangannya membasuh dada menggunakan air sabun itu serta sekali waktu memilin-milin putingnya menggunakan lembut. Aku  semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yg sangat sensual itu. Segera aku  berbalik badan buat memandangnya lebih kentara lagi adegan itu.

Tania mengatakan manja,

“yuk Mas.., tolong gosokin punggung Nia dong..”. Tanpa berpikir panjang saya segera menghampirinya serta saya masuk ke pada bathtub.

Sementara Tania mengangkat punggungnya sejenak dan  mengatur posisi duduknya pada pada bathtub buat memberikan tempat duduk kepadaku pada belakang punggungnya. Kini   aku  sudah duduk tepat pada belakangnya, serta dengan kentara aku  bisa menyaksikan kulitnya yang putih higienis dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki serta pinggangku, kemudian aku  mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Sebab sempitnya bathtub itu buat tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Tania kelihatan gemas sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu.

“Hmm.. Nia gemes sama yang ini..”, begitu Tania berkata sambil meremasi kejantananku.

Tanganku yang tersebut membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya asal belakang, mecoba buat membasuh dadanya. Sengaja saya mempermainkan puting dan  payudaranya sebagai akibatnya Tania menggeliat kegelian. Kemudian Tania mendesah nikmat,

“Ahh.. “. Serta akupun secara refleks pribadi melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di lebih kurang leher belakangnya.

Aku  mencium dan  menggigit lehernya dengan lembut serta Tania makin mengelinjang-gelinjang.. Geli dan  nikmat sekali rasanya.

Saya tidak sabar lagi, lau aku  memintanya buat berbalik badan. Sekarang kami duduk berhadapan menggunakan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan lubang kewanitaannya, siap buat menusuknya menggunakan nikmat. Sekali lagi aku  membasuh dadanya, aku  meremas-remas payudaranya yang lembut menggunakan puting yg telah mengeras itu. Tania memejamkan mata menikmatinya.

Sebenarnya Tania sudah tidak tahan lagi, tetapi aku  masih mau bermain-main dengan dua bukit latif pada dadanya. Maka Tania menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, serta menggigit mesra puting-puting susunya. Tania hanya bisa mengerang, mendesis, dan  berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang berasal kehangatan mulutku. Zenit-zenit payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya –semua payudaranya– terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan.. Jeritnya dalam hati. Akan tetapi itu tidak perlu, karena saya tidak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menyebabkan suara kecipak yg ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus pada bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yg sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar pada liang hangat yg pastilah sudah berubah rona menjadi merah muda. Tania semakin banyak berkecimpung, menggeletar, menambah akbar gelombang air di bak mandi.

Kemudian aku  mulai mencium bibir lembutnya, saya beringsut ke depan dan  kejantananku perlahan-huma menembus lubang surgawi kewanitaannya. Tania sigap merogoh inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yg tepat, mengarahkan sentra kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Tania duduk kembali, serta dengan nikmatnya mencicipi senti-demi-senti penyatuan cinta ereksi dirinya dan  diriku. Nikmat sekali cita rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.

“Ah..,” cuma itu yg bisa Tania desahkan saat akhirnya Tania terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yg masih saling berhadapan.
“Oucchh.. Mas”, Tania mengerang penuh nikmat saat aku  membenamkan semua kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan ke 2 tangan, serta sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Tania memulai pendakiannya ke puncak  kenikmatan. Tubuhmu berkiprah naik-turun. Mula-mula perlahan dan  beraturan. Namun tidak lama   lalu berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan  bunyi-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Tania dialihkan menggunakan memeluk erat punggungku, seolah Tania menginginkan tusukanku lebih pada lagi. Tania menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sebagai akibatnya air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama menggunakan gejolak nafsu kami pada pagi buta itu. Menggunakan kasar Tania meremas-remas rambut kepalaku, Tania mencakari punggungku sembari menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Ke 2 tanganku yang kokoh ikut membantu. Saya mencekal pinggangnya menggunakan sigap, membantunya beranjak naik-turun, karena tampaknya Tania telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, sebab Tania meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, menyampaikan pemandangan indah  kepadaku. Segera saya meraih galat satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan  membuatnya menjerit nikmat, serta mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama pada pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Tania meregang dan  mengejang. Gerakannya terhenti pada tengah-tengah, lalu Tania terhenyak terduduk, serta menggelinjang bergeletar. Saya mencicipi denyutan-denyutan bertenaga pada bawah sana. Aku  meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.

Tania pun mengerang,

“..Aaah..”, Tania pun mendesis,
“..Sssh..”, Tania pun akhirnya berteriak panjang,
“..Oooh.. Mass enakk..”, sebelum akhirnya terkulai serta memeluk erat diriku.

Kami berciuman balik , kali ini dengan penuh kelembutan. Tania bergumam,

“Mmm.. Enak sekali, Mas luar biasaa.. Lezat sekali..”. 3 mnt berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini menggunakan saya sebagai pelaksana utamanya.

Tubuhku yang kokoh dinamis-mundur sebatas pinggang, membangun tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke semua penjuru tubuhnya.

Tania mengerang lagi, mendesis lagi. Saya semakin cepat berkecimpung, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat serta air bercampur di tubuh kami berdua, sementara pada bagian bawah, daerah penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, mengakibatkan suara berdecap berkecipak setiap kali aku  menghujam serta menghela. Suara-bunyi gairah memenuhi kamar mandi. Tania sangat bergairah. Aku  sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju zenit kenikmatan.

“Mmm.. Nia.. Ngga tahan, Mas.. Ngga tahan.. ,” Tania mengerang, saya hanya bisa menggeram.
“Ogghh.. Mas, Nia nikmatt.. Sekalii..”, Tania mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi menggunakan kecipak air di pada bathtub.
“Ogghh.., Nia,.. Mas jua enakk..”, aku  membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah.

Tanganku permanen memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali saya basahkan air sabun ke atasnya.

Tania makin mengelinjang-gelinjang sembari terus mendesah-desah nikmat,

“Terus Mas, terus Mas..”.
“Aaah..,” Tania menjerit tertahan waktu orgasme ke 2 (ke enam bersamaku) datang-tiba datang menyerbu.

Tania menggelinjang hebat, namun kedua tanganku erat memeluk, sehingga Tania tidak mampu melepaskan diri. Saya masih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Tania menggeletar hebat. Tania ingin diriku berhenti dulu. Akan tetapi tidak, tak. Tania ingin diriku terus beranjak. Berhenti dulu. Berkiprah. Berhenti dulu. Bergerak. Tania tidak memahami wajib  bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Tania menyerah. Tania menjerit lebih keras.

Dan  aku  mencicipi jepitan menguat di bawah sana, seakan mereMas, dicampur denyut-denyut keras. Aku  pun tidak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang menghasilkan mataku terpejam. Tak lama   kemudian ototku terasa menegang, 1/2 berteriak saya mengatakan, “yuk Nia.., Mas mau keluar, Mas nggak kuatt.. Yuk kita beserta-sama mencapai nikmatt.. Nia..”.

“mari Mas.. Terus Mas..”, Tania pun mendesah-desah sembari dengan semakin cepat beliau menggoyang-goyangkan pinggul dan  badannya.

Menggunakan sekuat tenaga aku  menghujam. Satu kali. 2 kali. 3 kali. Empat kali. Akhirnya aku  menggeram, menggerendeng bagai banteng menunda amarah, “Niaaa.., auucchh.. Mas keluarr.. Sayangg..”, serta sedetik lalu “Mas, Nia pula enakk..”. Lava panasku meledak-ledak pada pada lubang kewanitaannya, sementara Tania tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar berasal tubuhku, menyemprot kuat ke pada tubuh Tania yg telah terbuka mendapatkan, memfinalkan kenikmatan yg terasa sampai keujung jempol kakinya.

“Auucchh.. Geli sekalii.. Tapi enakk..” aku  menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu.

Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan  Taniapun terlihat menikmati ketika-ketika orgasmenya yg kesekian kali bersamaku..

Kami berdua terkulai menggunakan nafas memburu. Dia bahkan masih terus mengerang menggunakan bunyi pelan. 1/2 mnt lalu kami masih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat masih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku  matikan. Bunyi air tidak ada lagi. Kamar mandi pulang sepi, selesainya ketika-waktu latif itu. Kemudian saya berucap pelan,

“Kita harus segera mandi lagi, nih, ‘yang.. ”

Tania tersenyum,

“Nia yg memandikan, yaa.. Mas. Ini tanggung jawab Nia, lho!”. Akupun tertawa sembari berujar,
“jikalau engkau  yang memandikan saya, kita akan terlambat ke airport. Sekarang telah pukul 6 pagi”.
“Kan cuma mandi?” dia menggodaku lagi.
“Cuma mandi. Titik. Dan  mandinya juga gunakan shower saja.. ” sahutku.

Iapun menggangguk sepakat.

Lalu kami bergegas untuk membasuh diri kami masing-masing dan  Tania menyabuni semua tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, serta sesaat Taniapun masih sempat buat menguluminya.

“Occhh.. Nia, engkau  jua hebat sekali.., belum pernah saya merasakan yang mirip ini menggunakan orang lain..”, begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya.

Tania tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab,

“Ntar deh pada Jakarta.., Nia kasih yg lebih hebat lagi yaa..”. Saya tertawa keras, mencubit pipinya dengan gemas.

Benar-benar sebuah pagi yang latif sekali!!

Sesudah kami terselesaikan mandi kemudian kami bersiap buat check out serta berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku  dan  Tania sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Tania tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat menggunakan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian dia merebahkan kepalanya pada dadaku.

“Nia tidur yaa.. Mas, ngantuk serta capek nih”, begitu pungkasnya.
“Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..”, aku  menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku.

Sambil tersenyum saya berkata dalam hati,

“Pantas saja engkau  kecapekan, habis lebih asal 6 kali sih..”.

Kami sejenak terdiam saat si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur pada mataku, tanpa sedikitpun usaha buat melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah saya wajib  tidak percaya..?

“semenjak saat itulah aku  jadi tak jarang malakukan ‘affair’ dengan dia. Kalau hal itu elu sebut ‘affair’, tapi elu janji yaa.. Jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini”, si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.

“Oke.. Man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.

Datang-tiba HP si manajer itu berdering, dan  beliau menjawabnya menggunakan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Saya tahu, pasti itu ialah telephone asal rumahnya. Seluruh orang pada tempat kerja ini bisa membedakan bagaimana gayanya bila mendapatkan telephone berasal rumahnya.

“Gua, bubut dulu yaa..”, katanya lagi waktu ia selesai bicara di HP-nya.
“OK, see you next morning, take care..”, jawabku singkat.

Saat si manajer itu keluar serta menutup pintu kamar kerjaku, aku  kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur campurkan dan kocok antara cemburu, sebel, ingin murka , namun saya tidak memahami wajib  saya tujukan pada siapa. Aku  benar-benar tidak memahami harus berbuat apa.. Sejenak saya ingin menghubungi Tania melalui paging telephone, siapa tahu dia belum balik  saat ini, tetapi niatku itu aku  urungkan. Saya masih belum mampu menata pulang perasaanku.

Saya segera mematikan layar komputer, arlojiku sudah membagikan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap waktu aku  keluar asal pintu kamar kerjaku. Kursi Tania jua telah usang kosong. Rupanya dia bergegas balik  sore ini karena terdapat janji menggunakan seorang, begitu istilah office boy yg dengan setia masih menungguku.

“Acchh.., Tania, dengan siapa lagi kamu malam ini..?”, aku  bertanya pada hati sambil bergegas meninggalkan pintu ruang kantorku.

Cerita Sex | Cerita Phone Seks | Cerita Sex Selingkuh | Cerita Sex Bokep | Foto Sex

<

Kunjungi Cerita Sex Panas Lainya Juga Gan/Sis di www.ceritasexs.co

About admin blogseks.com

Leave a Reply