VIMAX
Cerita Sex
agen sbobet
Hammer Of Thor
bandar judi online terpercaya
Agen Domino Online
Hasil Live SGP
agen poker terpercaya
agen bandarq online
agen judi bola
joker qq
Mater Kiu
BANDAR 228
sakong kiu
Bandar capsa
obat pembesar penis
Home / Cerita Sex Tante / Cerita Sex Tante Githa Haus Sex

Cerita Sex Tante Githa Haus Sex

VIMAX

Cerita Sex Tante – Ibuku ini anak paling tua dari saudaranya, adik adiknya ada empat perempuan   seluruh,adeknya ibuku yg paling mungil asal dulu ikut dengan ibuku namanya Tante Githa, kira kira aku  dan  tante Githa hanya terpaut 7 tahun, dulu pada usianya yg masih Sekolah Menengah Pertama tante Githa tidak mau meneruskan ke Sekolah Menengan Atas tetapi malah ikut kakanya yang di Jakarta.

Tante Githa Haus Sex minta Di Setubuhi

Cerita Sex Tante Haus Sex
paras Tante Githa sangat menarik, bulat, cukup indah, kulit sawo matang, setinggi seperti anak wanita usia 14 tahun, tetapi pada pandanganku tampaknya tubuh Tante Githa lebih montok dibanding teman seusianya yg lain.

Menjadi gadis remaja yang sedang mekar tubuhnya, tanteku ini jua relatif sedikit keletah. Dia suka  berlama-lama   Bila sedang merias dirinya di depan cermin, aku  sering menggodanya serta Tante Githa selalu tertawa saja.

Saya sendiri anak tertua asal 3 bersaudara (semua saudaraku wanita). Rumahku saat itu hanya memiliki 3 kamar, satu kamar orang tuaku serta dua buat anak anak. Kedua adikku tidur pada satu kamar, serta aku  menempati kamar lain yg lebih mungil.

Semenjak Tante Githa tinggal dengan kami, tante tidur menggunakan kedua adikku ini. Pergaulan Tante Githa dengan tetangga sekitar jua sangat baik, dia cepat akrab dengan anak remaja sebayanya, antara lain tetangga kami Suli.

Usianya tidak jauh beda dengan tanteku kira-kira 15 tahun, akan tetapi tidak selaras menggunakan tanteku, Suli berkulit putih higienis serta jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu, rambutnya selalu disisir poni, murah senyum serta baik hati. Ia sangat baik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena beliau anak tunggal serta sangat mendambakan seorang saudara termuda pria seperti yg sering dikatakannya kepadaku.

Mbak Suli seringkali bermain di tempat tinggal   kami, bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami Jika hari libur, oh ya Mbak Suli ini kelas dua SMEA. Lebih kurang 2 bulan sehabis Tante Githa tinggal di rumahku, suatu waktu ibu serta almarhum ayahku wajib  meninggalkan kami karena suatu urusan pada Jawa Tengah (almarhum berasal dari sana) pungkasnya urusan warisan atau apalah ketika itu aku  tidak begitu paham.

Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kami dititipkan di tetangga sebelah tempat tinggal   (kami saling dekat dengan tetangga kiri-kanan) dan  tentu saja pada Tante Githa.

Tante Githa orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin sebab pada desa dulu memang tanteku itu orang yang “prigel” dalam pekerjaan tempat tinggal   tangga. Setiap hari Tante Githa beserta adikku selalu mengantarku sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal  .

Kemudian dia kembali serta menjemputku lagi di jam balik  sekolah (kira-kira pukul 10:30). Aku  sangat senang dijemput Tante Githa, karena aku  punya kesempatan buat menggandengnya serta menepuk pantatnya yang montok itu.

Entah mengapa meskipun aku  saat itu masih mungil, namun kemontokan dada Tante Githa dan  pula pinggulnya yang menonjol itu menghasilkan saya selalu berusaha menyentuhnya terutama secara “pura pura” tidak sengaja. Semuanya itu saya lakukan secara intuitif saja, tanpa ada siapapun yang mengajari.

Di hari keempat semenjak ditinggal pulang ke 2 orang tuaku (hari Sabtu), Sepulang sekolah, kami bermain di ruang depan sembari nonton televisi. Saya, adikku, Tante Githa dan  Mbak Suli. Orang tua Mbak Suli inilah yang dititipi oleh orang tuaku.

Masa kecilku memang lebih banyak dihabiskan pada pada tempat tinggal  , jarang saya bermain di luar rumah kecuali Jika sekolah, serta pergaulanku juga lebih banyak menggunakan adikku, atau beberapa anak sebaya tetangga terdekat, itupun kebanyakan mereka perempuan  .

Kami umumnya bermain mobil-mobilan atau sesekali bermain dokter-dokteran, aku  jadi dokter lalu Tante Githa serta Mbak Suli menjadi pasien. Kadang-kadang Jika saya sedang berpura-pura menyelidiki menggunakan stetoskop mainanku secara mencuri-curi aku  menyenggol payudara Mbak Suli atau tanteku, akan tetapi mereka tak marah hanya tersenyum sambil berkata,

“Eh, koq dokternya nakal, ya”. Sembari tertawa, terkadang membalas menggunakan cubitan ke pipi atau lenganku, yg selalu kuhindari. Memang mulanya saya tidak sengaja akan tetapi sepertinya asyik jua menyenggol payudara mereka, maka hal itu menjadi kebiasaanku, setiap kali permainan itu.

Terasa sekali payudara mereka kenyal serta empuk, setelah aku  akbar baru saya menyadari bahwa ketika itu mereka absolut tidak menggunakan beha, sebab tidak terasa ada sesuatu yg menghalangi sentuhan jariku pada daging montok itu kecuali lapisan baju mereka.

Setiap kali tanganku menyentuh meremas atau menowel bukit empuk itu, saya merasakan terdapat getaran aneh terutama pada sekitar kemaluanku, tidak jarang membuatnya menegang, walaupun saat itu masih mungil serta belum sunat.

Sering saya mengkhayalkan memegang payudara mereka Bila sedang sendirian di kamarku sembari memegang burung kecilku, hingga tegang walaupun tidak sampai mengeluarkan sperma, hanya cairan bening, mirip cairan lem uhu akan tetapi tidak seperti lem lengketnya. Siang itu selesainya adikku tertidur kami kembali bermain dokter-dokteran dan  hal itu kulakukan lagi.

Buat diperiksa kuminta Tante Githa buat berbaring di lantai, beliau dari saja. Yang pertama kuperiksa artinya dahinya kemudian aku  pribadi meletakkan stetoskopku pada dadanya, namun aku  sengaja memposisikan tanganku sedemikian rupa sebagai akibatnya tanganku berhasil melekat pada dada Tante Githa, kurasakan empuk sekali dan  seiring menggunakan napasnya, tangankupun ikut naik turun pelan-pelan.

Tante Githa hanya tertawa saja, sementara Mbak Suli memperhatikan sembari tertawa, rupanya mereka geli atas kekurangajaranku ini, sepertinya Tante Githa keenakan dengan tingkahku ini, tanganku tidak hanya mempelajari pada satu kawasan namun terus bergeser, serta aku  tidak pernah mengangkat tanganku asal gundukan kenyal itu.

Hingga tiba-datang Tante Githa memegang tanganku dan  menggosok-gosokannya di dadanya. Saya merasa senang sekali, apalagi Tante Githa juga tiba-tiba merangkul serta menciumiku menggunakan gemas, akan tetapi ya cuma begitu saja.

Sebab selanjutnya Mbak Suli yg minta diperiksa, Mbak Suli malahan lebih gila lagi, beliau sengaja membuka kancing blus-nya sebagai akibatnya aku  bisa melihat gundukan daging yang putih itu. Tanganku gemetar waktu meletakkan stetoskop plastikku pada tepi gundukan dadanya, apalagi ketika menggunakan suara nyaring Mbak Suli berkata, “Mas.. (beliau biasa memanggilku Mas mirip saudara termuda adikku, begitu juga Tante Githa), dingin stetoskopmu!”.

Tanpa mempedulikan ucapannya, stetoskopku terus bergeser sebagai akibatnya tersingkaplah bajunya serta mataku terbelalak melihat puting susunya yang mungil dan  berwarna coklat belia itu. Ketika itulah Mbak Suli menepis tanganku sambil tertawa, “telah sudah, geli!”. Mereka berdua pribadi berdiri dan  meninggalkanku sembari berbisik-bisik, saya merengek agar mereka permanen menemaniku bermain, tetapi mereka terus keluar sambil tertawa.

Saya mencicipi jikalau penisku kaku sekali dan  pula celanaku jadi basah, entah mengapa aku  jadi penasaran sekali menggunakan semua ini, saya bertekad bila besok main dokter-dokteran lagi, akan aku  singkap baju Tante Githa atau Mbak Suli biar   saya bisa melihat lebih kentara puting susu yg menonjol bulat itu.

Malamnya sebelum tidur aku  kembali membayangkan peristiwa siang itu, kurasakan penis kecilku meregang sehingga kubuka celana pendekku serta kukeluarkan penisku yang telah tegak ke atas itu. Kupegang serta kuremas pelan-pelan, sembari memejamkan mata kubayangkan kekenyalan dada Tante Githa, puting susu Mbak Suli, terasa nikmat sekali melamun sembari merasakan sesuatu yg gatal serta nikmat pada lebih kurang penisku itu.

“Hayo., lagi ngapain!, saya jadi kaget serta terlonjak dan  membuka mataku. Di depanku kulihat Tante Githa sembari tersenyum memandang bagian bawah tubuhku yang terbuka itu. Mukaku terasa panas, mungkin merah padam mukaku, sembari membetulkan celana yang hanya kupelorotkan hingga dengkul saya segera memeluk guling tanpa berkata apa apa lagi dan  membelakangi tanteku.

Sambil terus tertawa tanteku ikut naik ke ranjangku serta memelukku dari belakang serta menciumku sambil berbisik,

“Nggak apa apa Mas.”. Jantungku deg-deg, apalagi saat dengan lembut tanteku membelai rambutku terus tubuhku sembari berbisi,

“Ehh, jangan membuat malu, engkau  senang ya pegangin burung, sini tante pegangin”.

Mulanya saya ragu, takut jikalau tanteku hanya memancing reaksiku saja, namun waktu rabaannya turun ke arah selangkanganku aku  jadi berubah suka . Kuberanikan diri buat menolehnya dan  kudapati paras tanteku yg tersenyum manis sekali menghasilkan hatiku berbunga bunga.

Burungku yg tadinya telah mengecil itu mendadak meregang lagi serta mendesak celanaku. Tanteku lalu menciumi wajahku dengan afeksi, tangannya mulai meraba lagi bagian sensitifku berasal bagian luar celanaku, saya yakin tanteku mampu merasakan penisku yg meregang dan  keras itu, elusan tanteku terasa kurang nikmat, aku  berpikir andai saja tanteku memegang pribadi burungku, tentu lebih nikmat.

Belum habis aku  berpikir, datang-tiba saja Tante Githa memelorotkan celana pendekku hingga terlepas, sebagai akibatnya burungku yg telah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengan kelima jarinya tanteku menggenggam burungku serta meremasnya pelan.

Aku  merasa gatal dan  geli dan  nikmat yg tidak kumengerti akan tetapi membentuk saya merasa mirip melayang serta menggeliat dan  merintih pelan. Dengan memandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Githa di burungku menjadi semakin cepat bahkan jua dikocoknya naik turun kadang-kadang jua dielusnya buah pelirku.

Saya semakin meringis mencicipi kenikmatan ini, secara naluriah saya berusaha merangkul tanteku agar rasa geli itu makin terasa nikmat. Aku  jua berusaha menempelkan wajahku ke wajah Tante Githa yang kulihat jua merah padam dan  bibirnya gemetar, nafas Tante Githa semakin memburu serta beliau makin merapatkan tubuhnya ke tubuh kecilku, tanganku diraihnya kemudian dituntun ke dadanya yg montok dan  elastis  itu.

Tanganku terasa melekat di puting susu Tante Githa yg terasa keras seperti kelereng itu, aku  meremasnya menggunakan relatif sulit, karena telapak tanganku yg kecil itu tidak mampu meremas keseluruhan bagian atas dada Tante Githa yang lebar serta keras itu Kuperhatikan tanteku ketika itu mengenakan daster kaos yg tipis tanpa mengenakan apa apa lagi dibaliknya.

Merasa kurang puas hanya meremas asal luar, akupun menyelusupkan tanganku ke lubang tangan daster Tante Githa sehingga tanganku secara pribadi bersentuhan dengan dada yg telah usang saya kangeni itu, hangat serta licin sekali.

Bila tadinya tanteku yg asyik meremas-remas burungku, kini   justru aku  yang beringas meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yg lain juga ikut ikutan meremas payudara Tante Githa yang satunya.

Tante Githa hanya memejamkan matanya rapat kedap sambil menggigit bibirnya. Saya tidak mempedulikan apapun sikap Tante Githa, bagiku kesempatan emas ini wajib  benar-benar dinikmati dan  peduli dengan tanteku.

Tanganku bukan hanya meremas, namun pula memelintir puting susu tanteku yang mungil serta keras itu, lucu sekali melihat kedua tanganku menelinap serta berkecimpung-gerak di pada daster tanteku.

Kurasakan tangan tanteku telah tidak mengocok penisku, namun hanya kadang kadang saja beliau meremasnya dengan keras membuat saya kesakitan. Asal luar dadanya yg berdaster mulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, cita rasanya Bila memungkinkan saya ingin memanfaatkan seluruh tubuhku buat menikmati kekenyalan dada Tante Githa ini.

Tidak kusadari nafas tanteku makin usang makin memburu, rupanya beliau jua sangat menikmati kekasaran tanganku ini. Tiba-datang saja Tante Githa mengangkat dasternya sebagai akibatnya dadanya tersibak, baru waktu itu aku  mampu melihat kemontokan payudara tanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung atas payudaranya, sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh oleh remasanku.

Dada yg montok itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekas remasanku. Sesudah dadanya terbuka menggunakan gemetar Tante Githa berbisik, ” Mas, isep pentilnya pelan-pelan ya”. Tidak perlu diperintah dua kali, saya segera melumat puting susu tanteku serta mengenyotnya sekuatku,

Tante Githa mendesis desis serta menekan kepalaku kuat bertenaga kedadanya, saya memeluk pinggangnya serta kutindih badan Tante Githa dengan tubuhku yang telanjang bawah itu. Terasa burungku yg kaku itu menghunjam di tubuh mulus tanteku yg hanya dilapisi celana pada itu.

Tanteku makin kencang memeluk tubuhku, bahkan dia menyuruh aku  buat menjilati pula putingnya. Kulakukan seluruh itu menggunakan penuh semangat, entah apa imbas kepatuhanku ini pada Tante Githa, yang kentara saya sangat menikmatinya, penisku yg menggeser-geser diperut Tante Githa terasa mengeluarkan cairan yg membasahi perut Tante Githa.

Saat itu Tante Githa sudah tidak mempedulikan penisku lagi, beliau asyik menikmati kepatuhanku itu. Mungkin sebab sudah tidak tahan dengan seluruh itu, tiba-datang saja Tante Githa juga melepaskan celana dalamnya.

Selama ini aku  hanya bernafsu pada buah dadanya saja, saya tak pernah berpikiran lebih asal itu. Waktu dengan berbisik dia menyuruhku memindahkan ciumanku, saya relatif resah juga. ” Mas, mari sekarang ciumi selangkangan Mbak ya, nanti punya engkau  pula Mbak ciumi”.

Saya menghentikan kesibukanku di dada Tante Githa dan  memandang ke selangkangannya. Saya takjub sekali melihat selangkangan Tante Githa itu karena terdapat rambut ikal yang tumbuh pada ujung selangkangannya yg cembung itu, ini ialah pemandangan yang sama sekali baru bagiku, selama ini saya hanya pernah melihat selangkangan adikku yang saya memahami tidak terdapat burungnya mirip saya.

Namun selangkangan perempuan   yg berbulu, ya baru kepunyaan Tante Githa ini! Oh, terus terperinci saja, meskipun aku  secara naluri telah bangkit ereksi, tetapi tidak pernah kubayangkan bahwa saya akan melangkah sejauh ini dalam bidang seksual apalagi di usiaku yang belum sampai sepuluh tahun itu.

Saya relatif ragu pula melepaskan mainan yang begitu nikmat di payudara Tante Githa, tetapi perintah Tante Githa membuatku merubah posisi badanku dan  dengan ragu-ragu kudekatkan wajahku ke bukit konveks yg terdapat bulu keritingnya itu.

Merasakan keraguanku, Tante Githa tanpa basa basi pribadi menekan kepalaku sehingga bibir serta hidungku menempel di bulu-bulu keriting yg halus itu. Karena tersebut aku  disuruh menggigiti payudara, maka kali ini akupun juga mulai menggigiti bukit cembung itu.

Namun kudengar Tante Githa berteriak lirih, “Jangan keras keras gigitnya Mas, sakit!”. Ketidaktahuanku benar-benar konyol, aku  kira bukit konveks itu sama seperti payudara, tetapi sebab bidangnya kecil, tanganku tidak mungkin buat meremasnya, menjadi sasaran lain saya jadi meremas paha Tante Githa serta pula pantatnya.

Ketika Tante Githa membisiki agar ciumanku lebih turun lagi ke depan, aku  relatif galau juga. Nah saat saya maju ke depan barulah saya melihat celah sempit yg berbentuk bibir dan  saat itu telah basah. Warnanya sungguh menarik merah belia dan  bibirnya seperti berlipat lipat.

Seperti biasa saya menciumi bagian ini dengan penuh semangat. “Jilat saja Mas, nikmat lho!”, bisikan Tante Githa membuatku merubah lagi permainanku. Entah kenapa di tengah asyiknya saya menjilati celah basah yg asin dan  relatif amis itu, Tante Githa mengerang serta menjambak rambutku sembari menjepitnya menggunakan kedua pahanya.

Saya tidak mampu bernafas serta saya segera berontak melepaskan diri. Tante Githa melepaskan dasternya yang tersebut masih bergulung pada atas dadanya sebagai akibatnya beliau sekarang jadi telanjang bulat. Menggunakan suara serak disuruhnya saya berbaring telentang, menggunakan telanjang bundar  Tante Githa memegang burungku yg masih tegang itu, karena saat itu saya belum dikhitan, tanteku menceletkan kulup penisku yang terasa sangat geli bagiku lalu dengan tiba-datang Tante Githa mengangkangi burungku beliau menurunkan pantatnya, dan  dituntunnya burungku memasuki celah sempit yang tersebut saya jilati itu.

Dilakukannya semua ini menggunakan pelan-pelan hingga akhirnya saya merasakan kehangatan jepitan kemaluan tanteku yang ternyata telah sangat basah. Aku  tidak mengerti apa yg dilakukan tanteku ini, tetapi terasa geli, ngilu pada kurang lebih kemaluanku, pula ada rasa perih.

Tanteku hanya membisu saja setelah menelan burungku, dia malah mendekatkan dadanya ke wajahku sebagai akibatnya aku  mulai lagi menyedot puting susunya itu. Tanteku kembali mendesis-desis, dan  terasa dia memutar-mutar pantatnya membuat burungku mirip dikocok-aduk rata sang tangan tanteku yang lembut itu, nikmat sekali.

Tanteku terus saja menggoyangkan pantatnya ke kanan-kiri, putar sebagai akibatnya terdapat rasa yg lebih nikmat di lebih kurang kemaluanku. Rasa geli yang ditimbulkan membuat saya makin ganas menciumi bahkan jua menggigit daging montok yang bergantung di depanku itu.

Saat Tante Githa mengangkat pantatnya, saya merasa kalau btg burungku yg sekarang penuh lendir berasal dalam celah Tante Githa itu menjadi gatal dan  geli, ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan daripada diremas dengan tangan Tante Githa, apalagi dengan tanganku sendiri.

Tidak lama   aku  merasakan terdapat lendir yang meleleh di pangkal burungku, yg dari asal lubang Tante Githa itu. Ketika kutanyakan apakah Tante Githa pipis, beliau tidak menjawab, melainkan memejamkan matanya serta mendesis menggunakan keras sekali.

Pantatnya ditekan keras-keras ke tubuhku sehingga terasa pangkal kemaluanku menyentuh bibir vaginanya yg hangat. Kurasakan tubuhnya menegang dan  berdenyut-denyut pada bagian kemaluannya, menghasilkan burung kecilku mirip diurut dan  dipilin oleh tangan yg lembut. Oh.., sungguh kurasakan nikmat yang benar-benar luar biasa.

Bayangkan…, aku  yang baru SD kelas tiga telah mencicipi tubuh tanteku yang notabene beberapa tahun lebih tua, yg mungkin maniak seks (terakhir kutemukan koleksi gambar gambar porno di kembali tumpukan pakaiannya. Amanah saja Mbak, akupun tidak memahami apakah sebelum itu tanteku sudah pernah berafiliasi seks, tetapi kukira beliau telah pernah melakukannya, mungkin menggunakan temannya saat pada K.

Mbak pengalaman ini sangat membekas pada hatiku, sesudah peristiwa itu setiap ada kesempatan aku  selalu melakukan hal itu beserta tanteku, bahkan di suatu saat Mbak Suli diajak melakukan beserta kami bertiga (nanti lain waktu aku  cerita lagi perihal hal ini).

Bila dulu kami masih berpura-pura, maka kini   kami telah pandai  saling merangsang, dan  yang paling kunikmati artinya saat spermaku memancar keluar, itulah zenit dari segala kenikmatan, geli, dan  nikmat bercampur menjadi satu.

Kami sama sama menyukai permainan ini sebagai akibatnya seringkali pada satu hari kami melakukannya 3 empat kali, acapkali pula tanteku pindah ke kamarku malam-malam dan  kami melakukan hubungan seks ini menggunakan pintu terkunci.

Tante Githa pula senang mengulum burungku, bahkan acapkali pula saya muncrat pada dalam mulutnya. Seluruh kegiatan ini kulakukan kira-kira hingga sekitar 2 tahun hingga akhirnya tanteku kembali ke K. Dan  selanjutnya menikah di sana.

Mbak Yuri, disaat saya sudah berkeluarga keinginan untuk mengulang persetubuhan avonturir dengan tanteku sering timbul, yg aku  bayangkan hanya betapa sekarang aku  akan lebih pandai  membentuk tanteku merasa nikmat, serta akupun sempurna pula akan lebih menghayati dalam mencicipi kelembutan tanteku itu.

Semua keinginanku itu baru dapat terulang 15 tahun kemudian, ketika adikku yang paling mungil menikah pada K. Malam itu sehabis program resepsi pernikahan selesai kami balik  ke rumah kira-kira pukul 1 pagi, dan  karena banyak saudara yang tiba maka kami jua menyewa beberapa kamar hotel melati yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal   (kira kira 200 meter), kebetulan saat itu aku  satu rombongan menggunakan Tante Githa beserta dua orang anaknya (10 thn dan  7 thn), suaminya tidak ikut, karena ada tugas kantornya yg tidak bisa ditinggalkan.

Tanteku tidur pada ranjang beserta ke 2 anaknya, saya tidur di lantai menggunakan kasur extra. Mungkin sebab terlalu lelah kedua anaknya pribadi tertidur tidak usang sehabis lampu kamar dipadamkan. Walaupun lelah saya tidak mampu memejamkan mata, karena mengingat-jangan lupa peristiwa beberapa belas tahun kemudian beserta tante yang sekarang sedang terbaring pada atas daerah tidur.

Ternyata hal ini pula dialami oleh tante, saya merasakan dia gelisah bolak kembali.

“Nggak mampu tidur Mas?”.

“Iya nich, sumuk”.

Sambil melongok tante tersenyum kepada yang ada dibawahnya. Sembari turun asal ranjang dia bilang,

“Eh boleh nggak aku  tidur di sini?, sumuk di atas, pada sinikan anyep”. Saya menggeser ke tepi memberi kawasan untuk tante. Jantung ini serasa berpacu cepat waktu tubuh tante yg hangat melekat ke sisi tubuhku.

Aku  merasa ‘adikku’ sudah mulai bereaksi walaupun belum tegak sahih (saya waktu itu hanya mengenakan kaos oblong serta sarung saja, tidak mengenakan CD). Aku  semakin tidak tahan saat tanteku memiringkan tubuhnya ke arahku sebagai akibatnya kini   dadanya menempel pada lenganku.

Semakin nggak karuan nich cita rasanya. Ternyata tante tidak mengenakan BH, hanya daster terusan saja, yach payudaranya cukuplah, kira-kira 34B akan tetapi terasa sudah sangat kencang pada lenganku. Aku  semakin berani, kuraih pinggang tante serta aku  rapatkan pada tubuhku.

Tiba-tiba, tidak memahami siapa yang mulai kami sudah saling berpagutan. Pengecap tanteku menggunakan lincah menyelinap ke dalam mulutku yg segera kubelit dengan lidahku sendiri. Mbak Yuri, selama itu aku  hanya pernah bekerjasama seks dengan isteriku sendiri, dan  selama itu jua stress berat korelasi seksku menggunakan Tante Githa menghasilkan saya selalu beranggapan bahwa Tante Githa “lebih nikmat” asal isteriku.

Bagiku inilah saatnya buat membuktikan kebenaran memori masa lalu itu. Tangan Tante Githa mulai meraba dadaku terus ke bawah hingga pada selangkanganku dan  menemukan ‘adikku’ yg sudah mengacung keras.

Perlahan tangan Tante Githa mulai membelai-belai, mengocok-ngocok. Saya tidak mau ketinggalan menggunakan ganas merogoh ke arah selangkangannya sembari ekspresi ini tidak henti hentinya bergantian menghisap puting yang telah menegang.

Clitoris Tante Githa kubelai menggunakan sedikit kasar membuatnya mengelinjang tidak keruan. Saat aku  bermaksud akan memakai pengecap buat membentuk sensasi yg lain, tanteku mencegahnya,

“Jangan Mas, tante nggak tahan gelinya”, ucapnya. Saya mengurungkan niatku serta menggunakan pandangan matanya saya mengerti bahwa tante telah tidak tahan ingin disetubuhi maka aku  merogoh posisi untuk menindihnya, perlahan saya ukiran dulu ‘adikku’ ke seputar belahan serta permukaan liang tanteku itu, ia terlihat mengelinjang serta berusaha meraih penisku, dibimbingnya menuju lembah kehangatannya.

Begitu ujung adikku telah terselip diantara ke 2 bibir vaginanya, dengan berbisik tante menyuruhku buat menekan! Perlahan kuturunkan pantatku, oh.., ternyata sekitar sama menggunakan rasa istri aku  tapi agak lebih hangat cita rasanya.

Mulai saya naik turunkan menggunakan perlahan membuat sensasi yang semakin usang semakin kupercepat irama kocokanku, sayangnya tante Munrni sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa, beliau hanya membisu saja, sambil tangannya terus mencakar-cakar punggungku.

Rupanya tante sangat terpengaruh sang suasana yang menegangkan ini, sebagai akibatnya sulit buat memberikan respon. Namun kira-kira di mnt ke lima aku  mencicipi otot-otot vaginanya mulai berkontraksi menandakan telah waktunya bagi tante.

Aku  meningkatkan kecepatan kocokan dan  membenamkan sedalam dalamnya hingga kurasakan dasar kewanitaannya, Kudengar tante menjerit tertahan sebab segera beliau letakkan bantal ke wajahnya buat meredam suara yg ada.

Bagian vitalku terasa ada yang mencengkram lembut tapi ketat sekali, otot-otot vagina tanteku serasa memijat-mijat. Mbak Yuri…, terus terperinci rasanya lebih nikmat asal yg selama ini saya pernah bisa asal isteriku, barang isteriku tidak mampu mencengkeram, meskipun sebenarnya lebih sempit dan  kering dibanding kepunyaan tante yg terasa lebih longgar dan  agak licin itu.

Aku  sendiri belum keluar ketika itu, kulihat tanteku terkulai kelelahan, kubersihkan sisa -sisa  air mani serta pula cairan berasal pada vaginanya dengan menggunakan handuk mungil yang terdapat pada dekat situ. Sesudah kurasakan kering, menggunakan perlahan kumasukkan lagi burungku yang masih tegang serta kugenjot lagi.

Saya menggigit bibir tanteku saat kurasakan gesekan penisku dengan dinding vagina tante yang kesat serta kemarau itu, cita rasanya luar biasa.

Tante datang datang berbisik, “Mas, jangan digoyang dulu ya, izin tante yg goyangin”. Aku  berdasarkan saja, dan  mulailah tanteku meletakkan kedua kakinya pada pantatku, lalu mulai bergoyang, pertama memutar ke kiri dan  ke kanan, kadang-kadang disodoknya ke atas.

Saya hanya memejamkan mata merasakan kenikmatan yg tidak pernah saya dapat ini, “enak mana punya tante sama Asri, Mas?”. Aku  tidak menjawab pertanyaan tante ini, sebab amanah saja Mbak Yuri, punya tanteku lebih nikmat berasal vagina Asri isteriku.

Tidak tahan menggunakan putarannya, apalagi tanteku terus membisikkan istilah-istilah yang membuatku makin terangsang, akupun ikut-ikutan menggerakkan burungku maju mundur. Sementara buah dada tanteku telah rata kuciumi dan  kugigiti, tadinya saya takut untuk membuat cupangan didadanya, tetapi justru Tante Githa yang menyuruhku.

Beberapa ketika kemudian aku  rasakan sesuatu seakan mendesak buat dimuntahkan. Kutekan sedalam-dalamnya serta meledaklah semua kenikmatan pada dasar kewanitaannya. Tanteku tersenyum pada kegelapan melihat aku  mencapai kepuasan itu.

“Mas, ini baru komplit ya”!, bisiknya. Setelah merasakan tuntasnya semprotan spermaku, Tante Githa mendorong tubuhku ke samping, dan  menggunakan lembut dikulumnya burungku, saya menolak sebab terasa geli sekali membuat sakit pada batang burungku, tetapi tante tidak mempedulikanku, terus saja dia menjilati sebagai akibatnya burungku hingga bersih.

Sampai kini   saya selalu merindukan persetubuhan dengan Tante Githa ini. Sering aku  melamun dan  menganalisis apa yang mengakibatkan begitu nikmatnya rasa persetubuhan menggunakan dia. Jawabnya hanya satu, suasana yg penuh resiko,Cerita dewasa menghasilkan rangsangan yang tidak sama dan  menghasilkan saya sebagai penuh gairah.

Cerita Seks Tante | Cerita Sex Bergambar | Cerita Sex Terbaru | Foto Sex

About admin blogseks.com

Leave a Reply